Pengembangan kakao di Indonesia

Melihat pasar bisnis Agro pertanian di pengembangan bijian kakao saat ini mendongkrak pertumbuhan ekonomi diberbagai kalangan. Tak luput juga dengan sejumlah para penjual Alat ukur kadar air untuk bijian kakao saat ini. Pelayanan dari CV. Java Multi Mandiri  sangat cepat, ramah dan tentunya harga terjangkau, Pemasaran dilakukan dengan via online maupun offline apabila diperlukan kami siap mendemokan untuk alat digital meter / alat ukur kadar air dengan ketentuan yang berlaku. Anda kesulitan untuk mencari pengukur / alat uji kadar air untuk bisnis bijian anda ? bersolusilah pada kami, konsultasi gratis ! kami selalu siap bekerjasama dengan anda.

Meningkatkan pengetahuan untuk masalah pertanian, perkebunan, agro bisnis ? tentunya harus jeli melihat situasi pasar.

Pertanian Kakao
Pertanian Kakao

BANDARLAMPUNG – Petra Foods Ltd. meluncurkan Social Economic Environmental Development for Sustainability (SEEDS) di ballroom Novotel Lampung kemarin. Program tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) ini mendukung empat pilar pembangunan nasional. Yakni, pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, menciptakan lapangan kerja, dan menuntaskan kemiskinan.
’’Program CSR dari Petra Foods Ltd. Itu salah satu bentuk dukungan kepada pemerintah,’’ tegas Dirjen Perkebunan dan Pertanian RI Kamal Nasir.
Kamal mengatakan, pihaknya sangat mendukung program CSR itu guna pengembangan kakao yang berkelanjutan di Indonesia. Praktik pertanian yang berkelanjutan, tegas dia,  akan membantu masyarakat terutama perempuan dan generasi muda di daerah pedesaan untuk mendapatkan penghasilan tetap. ’’Dengan adanya peningkatan kualitas produksi, otomatis penghasilan tenaga kerja semakin meningkat,’’ ujarnya.
Saat ini, Pantai Gading dan Ghana masih produsen kakao terbesar di dunia. Sedangkan Indonesia menempati posisi ketiga terbesar. Padahal, potensi Indonesia juga tak kalah dengan kedua negara tersebut.
’’Untuk itu, mari kita bersama-sama meningkatkan daya saing kakao Indonesia menjadi produsen posisi satu,’’ tandas Kamal.
CEO Petra Foods Joseph Chuang mengatakan, pihaknya memilih Lampung untuk program SEEDS ini lantaran potensi pengembangan pertanian kakao sangat besar.
’’Pertanian kakao terbesar di Indonesia ada di Sumatera dan Sulawesi. Dan Sumatera, kami pilih Lampung untuk kali pertama setelah Sulawesi Selatan,’’ terangnya.
Dia berpendapat, potensi pengembangan pertanian kakao Lampung sangat besar. Sayangnya, sampai kini hasil pertanian kakao daerah ini masih terbatas.
’’Kami harap bisa membantu petani meningkatkan produktivitas kakao baik dari segi kualitas maupun kuantitas,’’ lanjutnya.
Chuang juga optimistis Lampung berpotensi menjadi sentra produksi kakao di Indonesia hingga bisa mewujudkan Indonesia produsen kakao terbesar di dunia,
Ia berasumsi, jika mutu dan volume produksi kakao lebih baik, permintaan konsumen akan meningkat. Begitu juga pendapatan para petani. Sedangkan program SEEDS ini akan membantu petani meningkatkan produktivitas tanpa penggunaan pestisida yang berlebihan dan pembukaan lahan baru.
’’Kami menargetkan program SEEDS di Lampung dengan lahan pertanian seluas 3.500 ha akan melibatkan 4.000 petani, serta memproduksi kakao sebesar 3.000–3.500 metrik ton untuk periode 2013–2015,’’ urainya.
Selain membantu para petani dalam hal teknis produksi, SEEDS juga menggandeng Bank Syariah Mandiri (BSM) untuk memberi akses permodalan kepada petani dan membantu kegiatan pascapanen.
’’Pada awalnya kami merasa tugas membina petani adalah tugas berat tapi kini kami sudah melihat hasil positifnya. Melalui program SEEDS ini akan tercipta good agriculture products (GAP), ketersediaan produksi kakao terjamin,’’ jelas Chuang. (hyt/c3/wan) radarlampung.co.id

MedanBisnis – Belawan. Setelah turun tajam, aktivitas ekspor kakao Sumatera Utara (Sumut) yang dikapalkan melalui terminal peti kemas Belawan International Container Terminal (BICT) naik hingga tiga kali lipat. Selama september 2012, volume ekspor kakao Sumut mencapai 2.775 ton, atau naik sebesar 395,53% dibandingkan Agustus 2012 sebanyak 560 ton.
“Memasuki bulan September, aktivitas ekspor salah satu komoditas ekspor unggulan Sumut ini meningkat drastis,” kata Asisten Manajer Hukum dan Humas Pelindo I BICT H Suratman Ssos, kepada MedanBisnis, di Belawan, Senin (15/10).
Sebelumnya, pada Agustus 2012, ekspor kakao Sumut melalui terminal peti kemas BICT melorot tajam yakni dari 2.144 ton pada Juli 2012 menjadi 560 ton, atau anjlok 74% pada Agustus 2012. Namun, secara kumulatif selama periode Januari-September 2012 mengalami penurunan 32,24%, dari yang sebelumnya 33.909 ton pada Januari-September 2011 menjadi 22.976 ton pada periode yang sama di tahun 2012.
Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) menduga penurunan ekspor  disebabkan tingginya bea keluar yang dikutip pemerintah sesuai Peraturan Menteri Keuangan No 67/PMK.011/2010 sebesar 5-15 %. “Aturan itu telah berdampak pada iklim usaha yang mengakibatkan hengkangnya beberapa perusahaan trader multinational yang bergerak di bisnis kakao di Indonesia. Di mana para trader asing memilih memindahkan usahanya dari Indonesia ke Vietnam,” kata Wakil Sekretaris Askindo Sohinder Dingri Sonny, belum lama ini.
Menurut Sonny, Permenkeu 67/2010 yang efektif berlaku 1 Mei 2010  mengakibatkan para trader kakao asing tidak lagi kompetitif membeli kakao dari petani. Pasalnya, harus membayar bea keluar atau pajak ekspor. “Kami coba bertahan selama dua tahun ini, ternyata kami sangat kewalahan mendapatkan bahan baku karena perbedaan harganya yang sangat mencolok akibat regulasi bea keluar ini,” tambahnya. ( wismar simanjuntak) medanbisnisdaily.com

BANDA ACEH–MICOM: Ratusan hekatare tanaman kakao milik petani di Kabupaten Aceh Utara, terserang hama busuk buah. Tanaman tersebut adalah milik para petani yang umumnya kurang sentuhan teknologi pertanian modern.
Ratusan kebun yang terserang itu tersebar di berbagai kecamatan di kabupaten pesisir Aceh itu. Serangan terjadi di Kecamatan Matangkuli, Pirak Timu, Paya Bakong, Cot Girek, dan Langkahan.
Karena serangan itu, ribuan buah kakao muda dan siap panen membusuk. Serangan busuk itu biasanya diawali di bagian bawah dan naik ke arah tangkai. Akibatnya, petani menderita gagal panen.
“Kadang buah busuk mencapai 20-40 persen dari jumalah produksi setiap batang,” kata Kahatijah, petani kakao di Kecamatan Pirak Timu.
Ketua Forum Kakao Aceh (FKA) Hasanuddin Darjo mengatakan pihaknya akan menangani secara khusus serangan hama ini.
Hal itu sesuai permintaan Wakil Gubernur Aceh Muzakkir Manaf yang meminta Forum Kakao Aceh untuk segera mencari jalan keluar.
“Kami akan mengundang para ahli kakao ke Aceh Utara. Untuk mengetahui penyebab serangan buah busuk. Dengan cara demikian kita bisa mengetahui secara persis apa upaya paling tepat yang harus dilakukan,” kata Hasanuddin Darjo. (MR/OL-9)
mediaindonesia.com ( Jumat, 19 Oktober 2012 ).

Pengembangan kakao di Indonesia

MEDAN, KOMPAS.com- Pemerintah Provinsi Sumatera Utara tengah berupaya mendesak lembaga legislatif untuk membuat regulasi yang memungkinkan pemerintah daerah memperoleh bagi hasil dari sektor perkebunan. Selama ini, bagi hasil perkebunan hanya diperuntukan bagi pemerintah pusat.
R Sabrina, Asisten II Bidang Ekonomi Pembangunan Sumut, mengatakan, bagi hasil tersebut bisa mencapai triliunan rupiah.
Dia mendiskripsikan, Badan Usaha Milik Daerah Sumut PT Perkebunan Indonesia saja mampu memberikan pemasukan sampai Rp 9,7 miliar per tahun. Padahal, terdapat puluhan perusahaan perkebunan, baik milik negara maupun swasta yang berada di Sumut.
“Rencana undang-undang tentang bagi hasil perkebunan ini sudah dibahas DPR. Kami berharap segera ditetapkan menjadi undang-undang,” kata Sabrina di Nias, Sabtu (20/10/2012).
Perkebunan tersebut antara lain meliputi perkebunan karet, kelapa sawit, kopi, kelapa, dan kakao.
Kelapa sawit luasnya 855.333,00 hektar dengan total produksi tandan buah segar sebesar 12.070.507,81 ton per tahun. Kopi di Sumut terdiri dari jenis arabika dan robusta. Luas lahan 19.649,16 hektar untuk kopi arabika dan 57.433,17 hektar untuk robusta. Produksi kopi arabika mencapai 19.137,31 ton per tahun.
Adapun kakao memiliki lahan seluas 67.801,14 hektar dengan produksi 48.745,04 ton. Karet memiliki lahan seluas 449.182,70 hektar dengan total produksi 334.208,66 ton per tahun.
Sementara itu, perkebunan kalapa memiliki luas lahan 132.744,80 hektar dengan total produksi 102.662,27 ton per tahun. “Saya yakin UU tersebut akan terbit. Saya melihjat, Jatim berhasil memperjuangkan bagi hasil untuk tembakau dan rokok, mestinya sumut juga bisa untuk perkebunan,” tandas sabrina.
Nasser Atorf, selaku Kepala Perwakilan BI Wilayah IX menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara mencapai 6,3 persen. Itu termasuk tinggi secara nasional. Sektor pendukung laju pertumbuhan ekonomi tersebut antaara lain perkebunan kelapa sawit. ( Penulis : Mohammad Hilmi Faiq | Sabtu, 20 Oktober 2012 ).

* Semoga Artikel Ini Bermanfaat untuk Anda

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY