Usaha Minyak Daun Cengkeh

Usaha Minyak Daun Cengkeh

Usaha penyulingan minyak daun cengkeh ini cocok bagi usaha kecil menengah dikarenakan harga bahan baku yang relatif murah dan prosesnya yang mudah.

Clove Leaf Oil

Minyak daun cengkeh (clove leaf oil) adalah minyak atsiri hasil sulingan daun cengkeh kering (umumnya yang sudah gugur).
Minyak atsiri jenis ini memiliki pasaran yang luas di industri farmasi, penyedap masakan dan wewangian. Kandungan minyak cengkeh adalah eugenol (90%), eugenil acetate, methyl n-hepthyl alcohol, benzyl alcohol, methyl salicylate, methyl n-amyl carbinol, dan terpene caryo-phyllene. Minyak daun cengkeh mulai dikembangkan pada tahun 1960 yang digunakan untuk bahan baku obat, pewangi sabun dan deterjen. Minyak daun cengkeh juga digunakan di industri wewangian dengan ketetapan standar mutu tertentu yang lebih ketat.

Minyak daun cengkeh banyak digunakan dalam industri farmasi, parfum, kosmetik dan industri flavor makanan dan minuman. Peluang usaha minyak daun cengkeh di Indonesia cukup besar, terutama di daerah-daerah sentra produksi cengkeh. Laporan penelitian dari Balittro (2005) mengungkapkan, Pulau Jawa memiliki pertanaman cengkeh dengan luas areal mencapai ± 50.000 ha, diperkirakan memiliki potensi daun cengkeh gugur ± 305 ton per hari atau setara dengan 4,4 ton minyak daun cengkeh per hari.
Perhitungan ini didasarkan pada berat daun jatuh setiap pohon 0,5 kg per minggu, umur tanaman lebih dari 10 tahun, dengan rendemen minyak daun cengkeh 2% s/d 2,8%, populasi tanaman 100 pohon per hektar (polikultur) dan rata-rata penutupan kanopi 60%, akan menjadi peluang usaha yang menguntungkan.

Minyak Daun Cengkeh
Minyak Daun Cengkeh

PRODUKSI MINYAK DAUN CENGKEH

Bahan baku utama yang digunakan pada minyak daun cengkeh adalah daun cengkeh kering yang sudah gugur. Ini menyebabkan usaha minyak daun cengkeh bersifat musiman karena sangat tergantung pada ketersediaan bahan baku. Pada musim kemarau ketersediaan bahan baku melimpah dan sebaliknya pada musim penghujan terjadi kekurangan suplai bahan baku. Beberapa pengusaha pengolahan minyak daun cengkeh mengantisipasinya dengan menyimpan sebagian hasil produksinya untuk dijual pada saat mereka tidak dapat melakukan proses produksi dengan harga yang lebih baik. Pada umumnya, proses produksi dapat dilakukan 5-6 bulan dalam satu tahun.

Ada beberapa alat dan peralatan produksi yang diperlukan dalam proses pengolahan minyak daun cengkeh. Fasilitas produksi yang utama adalah ketel dari platbesi (plateser), tungku dan kondensor. Kondensor berupa kolam yang di dalamnya terendam pipa dengan bentuk spiral atau pipa baja biasa yang dibentuk melingkar. Kolam terdiri dari dua buah kolam dengan posisi yang berdekatan agar pipa yang digunakan tidak terlalu panjang. Peralatan lain yang diperlukan berupa 4 drum plastik berukuran 200 liter untuk menampung minyak daun cengkeh, garu, sendok, 5 jerigen, corong minyak, dan kain penyaring (Umumnya sama seperti penyulingan minyak nilam).

Proses penyulingan dilakukan dengan memanaskan bahan baku dan air yang dimasukkan dalam ketel yang kemudian dipanaskan. Proses pemanasan dapat menggunakan bahan bakar berupa limbah daun yang disuling sebelumnya. Uap air dan uap minyak daun cengkeh akan mengalir melalui pipa masuk ke dalam kondensor. Kondensor tersebut dapat berupa kolam. Semakin lama uap minyak daun cengkeh dan uap air berada dalam kolam pendingin, semakin baik proses kondensasi yang terjadi. Biasanya para penyuling di pedesaan menggunakan 2 kolam pendingin untuk proses kondensasi ini. Air kolam harus terus dijaga agar tetap berada pada suhu yang dingin. Kondensasi mengubah uap air dan uap minyak daun cengkeh menjadi bentuk cair berupa minyak daun cengkeh dan air yang ditampung dalam drum.

Metode penyulingan dengan menggunakan uap air memiliki kelebihan tersendiri. Penyulingan dengan air dan uap ini relatif murah atau ekonomis. Biaya yang diperlukan relatif rendah dengan rendemen minyak daun cengkeh yang memadai dan masih memenuhi standar mutu yang diinginkan konsumen. Kelemahan utamanya adalah kecepatan penyulingan yang rendah.
Hasil penyulingan 1,3 ton daun cengkeh kira-kira akan menghasilkan 35 kg minyak daun cengkeh. Jika dalam sehari dapat dilakukan 2 kali penyulingan, maka satu ketel dapat menghasilkan 70 kg minyak daun cengkeh per hari.

Minyak daun cengkeh dapat dibedakan berdasarkan mutunya. Mutu minyak daun cengkeh dipengaruhi setidaknya oleh 3 hal :

  • Pertama, pemilihan bahan baku. Daun cengkeh yang kering, bersih dan tidak tercampur bahan-bahan lain akan menghasilkan minyak sesuai dengan yang diinginkan.
  • Kedua, proses produksi. Mutu minyak daun cengkeh dipengaruhi oleh kondisi peralatan yang digunakan dan waktu proses penyulingan. Ketel dengan bahan anti karat akan menghasilkan minyak daun cengkeh yang lebih baik dibandingkan penyulingan dengan menggunakan ketel yang terbuat dari besi plat biasa, apalagi dengan menggunakan drum-drum kaleng biasa. Waktu penyulingan yang lebih singkat juga mempengaruhi kualitas minyak daun cengkeh yang dihasilkan.
  • Ketiga, penanganan hasil produksi. Minyak daun cengkeh yang seharusnya ditampung dan disimpan dalam kemasan dari bahan gelas, plastik atau bahan anti karat lainnya akan menurun kualitasnya jika hanya disimpan dalam kemasan dari logam berkarat. Minyak daun cengkeh mudah beroksidasi dengan bahan logam.

Produksi minyak daun cengkeh yang optimum tergantung pada kapasitas ketel yang digunakan. Ketel dengan kapasitas 1,3 ton daun cengkeh dapat menghasilkan kurang lebih 35 kg minyak daun cengkeh. Dengan menggunakan dua ketel dan dua kali proses suling per ketel maka dalam sehari dapat dihasilkan minyak daun cengkeh sebanyak 1,4 kwintal.

Minyak Cengkeh

Kendala produksi utama yang dihadapi oleh pengusaha minyak daun cengkeh ini terutama terkait dengan pengadaan bahan baku yang bersifat musiman. Ketersediaan bahan baku daun cengkeh sangat tergantung pada musim. Pada musim penghujan, pasokan bahan baku bisa dikatakan tidak ada sehingga para pengusaha tidak berproduksi. Hambatan yang kedua adalah kapasitas produksi yang masih sangat terbatas. Seringkali pengusaha kecil penyulingan minyak daun cengkeh di pedesaan tidak dapat memenuhi permintaan konsumen dalam jumlah besar pada waktu tertentu.

PELUANG PASAR

Permintaan akan minyak daun cengkeh sangatlah besar dan sering terjadi kelebihan permintaan yang tidak dapat dipenuhi oleh kapasitas produksi industri kecil minyak daun cengkeh yang terbatas.

BULUKUMBA, KOMPAS[ dot ]com – Cengkeh, merupakan komoditas yang selama ini menjadi salah satu andalan bagai sejumlah petani di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, terutama di saat musim buah. Tidak hanya buah cengkeh yang laku dijual, namun daun buah pun sangat banyak peminatnya.

Untuk daun cengkeh, terutama yang telah tua dan gugur biasanya hanya akan terbuang begitu saja di bawah pohonnya. Malah oleh pemiliknya dianggap sebagai sampah yang mengganggu keindahan dan kebersihan saja. Sehingga selama ini daun cengkeh tersebut dibuang atau dibakar agar kebun cengkeh mereka tetap bersih.

Namun, dalam enam bulan terakhir ini, daun cengkeh yang telah menguning dan berguguran ke tanah dicari dan dikumpulkan warga. Sebab, daun-daun cengkeh tua tersebut sudah menjadi barang yang sangat berharga, sehingga tidak lagi dianggap sampah.
Mereka rela mengumpulkan satu persatu daun cengkeh yang berserakan di bawah pohonnya, karena ternyata saat ini banyak pedagang yang mau membeli daun cengkeh tersebut dengan harga berkisar Rp 500 per kilo. Demikian dikatakan Asmi, salah satu pemilik kebun cengkeh di Bulukumba, Minggu (6/5/2012).

Daun cengkeh tua, tenyata dapat di produksi untuk mendapatkan minyaknya yaitu minyak daun cengkeh (clove leaf oil) dengan cara proses penyulingan seperti yang dilakukan oleh sejumlah warga di Desa Bonto Bontoa, Kecamatan Kindang, Kabupaten Bulukumba.
Demi menghasilkan minyak cengkeh, mereka hanya membutuhkan peralatan yang terbilang sederhana yaitu berupa tungku perapian, yang di atasnya terdapat sebuah ketel berukuran satu ton, serta pipa-pipa yang berguna untuk menyalurkan uap minyak yang dihasilkan dari penyulingan.

Biasanya, kata Ambo Endre, salah satu pekerja pabrik penyulingan, pemilik penyulingan mengupah setiap pekerjanya Rp 10.000 untuk satu kilogram minyak yang dihasilkan. Minyak cengkeh tersebut lantas dijual ke pada para agen, dengan harga Rp 60 hingga Rp 70 ribu per kilo.

“Minyak daun cengkeh ini memiliki kegunaan yang cukup beragam, tidak hanya untuk minyak urut, namun juga untuk kosmetik, bahan makanan dan minuman, parfum, farmasi, malah sebagai bahan peledak dan minyak pesawat ulang alik. Sehingga tidak heran minyak daun cengkeh tersebut juga dijadikan sebagai barang ekspor dengan harga yang cenderung stabil,” jelas Ambo di sela-sela kesibukannya mengolah daun cengkeh.

Selain untuk membuat minyak dan pengganti kayu bakar, lanjut Ambo, bekas hasil sisa hasil pembakaran daun cengkeh ini juga bisa digunakan sebagai kompos, sehingga tidak ada daun yang dibuang.

NO COMMENTS