Quality Standart pada Biji Kakao

Standar kualitas kakao

Salah satu tujuan penting sertifikasi adalah untuk memperbaiki kualitas barang yang menjadi objek dari sertifikasi itu sendiri. Saat ini belum semua petani, kolektor dan supplier yang terlibat dalam usaha kopi dan kakao mengetahui secara benar standar dan kualiti untuk perdagangan international (ekspor).

Pada tingkat petani standar kualitas kakao akan dipengaruhi oleh hal-hal sebagai berikut:
Pemilihan lokasi lahan yang cocok untuk tanaman.

Untuk Kakao Pertumbuhan optimumnya di ketinggian 600 dpl dan ketinggian maximum yang masih bisa ditanami kakao adalah 1200 dpl.

Quality Standart pada Biji Kakao

Pemilihan bibit unggul

Pemilihan bibit unggul merupakan poin yang sangat penting untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Pemilihan bibit juga harus memperhatikan lahan yang akan ditanamani kopi atau kakao, karena ketinggian lahan juga akan berpengaruh terhadap kecocokan jenis varietas yang akan ditanami. Untuk kopi Arabika di tanah gayo dikenal beberapa varietas yang dikenal secara umum seperti Ateng Super, Tim-Tim & Born Bon. Untuk varietas kakao dikenal beberapa varietas antara lain Griolo, Forastero & Trinitario. Jenis Forastero adalah varietas yang dominan diusahakan di Indonesia.

Perawatan dan Pemupukan

Perawatan dan pemupukan yang intensif juga akan sangat mempengaruhi terhadap hasil dan kualitas produksi kopi dan kakao. Perawatan yang paling penting untuk kopi dan kakao adalah pemangkasan. Kebanyakan kopi dan kakao petani belum dilakukan pemangkasan dengan standar yang benar. Kehilangan hasil akibat pemangkasan tidak dilakukan dengan standar yang benar bisa mencapai 30-50 % dari hasil yang sebenarnya. Pemupukan untuk kopi dan kakao seiring dengan permintaan pasar international yang mengarah ke organik, pola pemupukan petani untuk komoditi ini juga sudah mengarah ke organik.

Pemanenan & Pengilingan gelondong

Gelondong yang sudah dipetik juga harus segera di giling dengan pulper dan tidak boleh melebihi 24 jam setelah dilakukan pemetikan. Pengilingan yang melebihi 24 jam akan berakibat pada terjadinya fermentasi yang berlebihan dan menyebabkan rusaknya rasa secara organoleptik.

STANDAR UNTUK KAKAO
Standar pembelian Kakao di Indonesia pada umumnya masih mengikuti Standar Nasional Indonesia (SNI) 01-2323:2008. Standar SNI ini sudah merujuk pada standar yang digunakan oleh negara produsen kakao lainnya dan persyaratan mutu yang ditetapkan oleh negara konsumen atau tujuan ekspor.

SNI Pada Kakao
SNI Pada Kakao

Menurut jenis tanaman kakao di golongkan dalam 2 jenis yaitu:

  • Jenis Mulia (Fine Cacoa/F)
  • Jenis Lindak (Bulk Cacoa/B)

Menurut jenis mutunya kakao digolongkan dalam 3 jenis yaitu:

  • Mutu I
  • Mutu II
  • Mutu III

Quality Standart pada Biji Kakao

Berdasarkan ukuran biji dalam takaran 100 gram, biji kakao digolongkan dalam 5 kategori yaitu:

  1. AA: Maksimum 85 biji kakao dalam pe rseratus gram
  2. A : 86-100 biji kakao dalam per seratus gram
  3. B : 101-110 biji kakao dalam per seratus gram
  4. C : 111-120 biji kakao dalam per seratus gram
  5. S : lebih dari 120 biji kakao dalam per seratus gram

Persyaratan mutu yang dilihat dalam penentuan kualiti kakao meliputi:

  • Serangga hidup yang terdapat dalam sampel
  • Kadar air maksimum 7,5
  • Biji yang berbau asap atau bau asing lainnya
  • Kadar benda asing

 

Kadar air pada biji kakao

merupakan sifat fisik yang sangat penting dan sangat diperhatikan oleh pembeli. Selain sangat berpengaruh terhadap randemen hasil (yield), kadar air juga berpengaruh pada daya tahan biji kakao terhadap kerusakan terutama saat penggudangan dan pengangkutan. Biji kakao, yang mempunyai kadar air tinggi, sangat rentan terhadap serangan jamur dan serangga. Keduanya sangat tidak disukai oleh konsumen karena cenderung menimbulkan kerusakan cita-rasa dan aroma dasar yang tidak dapat diperbaiki pada proses berikutnya. Standar kadar air biji kakao mutu ekspor adalah 6 – 7%. Jika lebih tinggi dari nilai tersebut, biji kakao tidak aman disimpan dalam waktu lama, sedang jika kadar air terlalu rendah biji kakao cenderung menjadi rapuh.

Tujuan pengeringan biji kakao

adalah menurunkan kadar air dari 60% menjadi 6 – 7%. Ada beberapa cara pengeringan yaitu dengan sinar matahari, dengan alat pengering dan kombinasi keduanya. Kombinasi pengeringan kakao dengan menggunakan sinar matahari dan panas buatan lebih baik karena tidak tergantung cuaca dan bahan bakar yang dikonsumsi. Kadar air kakao dapat kita dapatkan dengan mudah jika menggunakan alat ukur kadar air digital, seperti JV-010S dan  MC7825G. Tinggal kebutuhan anda dalam ruang lapangan ataupun digudang keduanya bisa dipakai untuk mengukur kadar air pada kakao, model tuang yang terdapat pada digital meter JV-010S dan Model Tusuk pada Alat Digital meter MC7825G.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY