Penurunan harga Batubara belum Menentu Kapan Teratasi

Batu bara atau batubara adalah salah satu bahan bakar fosil. Pengertian umumnya adalah batuan sedimen yang dapat terbakar, terbentuk dari endapan organik, utamanya adalah sisa-sisa tumbuhan dan terbentuk melalui proses pembatubaraan. Unsur-unsur utamanya terdiri dari karbon, hidrogen dan oksigen.
Batu bara juga adalah batuan organik yang memiliki sifat-sifat fisika dan kimia yang kompleks yang dapat ditemui dalam berbagai bentuk.
Analisis unsur memberikan rumus formula empiris seperti C137H97O9NS untuk bituminus dan C240H90O4NS untuk antrasit. ( wipedia.org )

Batubara Indonesia
Batubara Indonesia

Berita batubara yang kami ambil ambil dari berbagai portal berita diberbagai daerah :
JAKARTA: Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) menyatakan pada 2013 produksi batu bara akan tertahan.
Ketua Umum APBI Bob Kamandanu mengatakan pada 2013 produksi batu bara akan tertahan lantaran banyak pemain kecil yang tidak lagi bermain di bisnis batu bara.
“Produksi akan tertahan, tapi bukan karena pemain besar tidak bertambah. Ini karena hilangnya pemain-pemain kecil,” kata Bob di sela-sela acara Investment Coal 2012 di Jakarta, Selasa (6/11).
Menurutnya, produksi batu bara tahun 2013 akan flat. Artinya tidak akan banyak berubah dari produksi 2012. Jika tahun ini diprediksikan produksi batu bara mencapai 340 juta ton, kemungkinan tahun depan juga akan berkisar di angka tersebut. Dia mengatakan produksi lebih baik ditahan karena harga sedang rendah.

“Lebih baik ditahan sampai harga tinggi. Tertahan soalnya banyak perusahaan tambang yang muncul belakangan pada tutup, mereka yang ekspektasinya marjin besar,” jelasnya. Bob mencontohkan di Jambi, dari 32 perusahaan hanya tersisa 4 perusahaan. Itu pun, lanjut Bob, mereka sudah berusaha dengan keras. Apalagi Kalimantan Selatan yang sebenarnya bagus untuk market dan industri.
Produksi batu bara 2013 akan flat dan tertahan. Begitu juga dengan alokasi batu bara untuk kebutuhan dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO). Sebelumnya, Pemerintah memangkas alokasi batu bara untuk kebutuhan dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO) tahun ini sekitar 15 juta ton, dari rencana semula 82,07 juta ton menjadi hanya 67,25 juta ton.
“Tahun 2013 akan tetap DMO dengan tahun ini, karena outoputnya tetap. Saya lebih melihat pada ekspektasi dan realisasi permintaan batu bara.”
Pada 31 Oktober 2012, pemerintah menerbitkan Kepmen ESDM No.909.K/30/DJB/2012 tentang Perubahan atas Kepmen ESDM No.1991 K/30/MEM/2011 tentang Penetapan Kebutuhan dan Persentase Minimal Penjualan Batu bara untuk Kepentingan Dalam Negeri Tahun 2012.
Kepmen tersebut ditandatangani oleh Dirjen Mineral dan Batu bara Thamrin Sihite atas nama Menteri ESDM. Kepmen itu juga ditembuskan kepada Presiden RI, Wakil Presiden RI, Menteri ESDM, Menko Perekonomian, Menteri Dalam Negeri, dan Menteri Perindustrian.
Dalam kepmen yang baru, perkiraan kebutuhan batu bara untuk kepentingan dalam negeri tahun ini direvisi menjadi 67,25 juta ton dari semula 82,07 juta ton. Dengan demikian, persentase minimal penjualan batu bara domestik oleh badan usaha pertambangan batu bara juga direvisi menjadi 20,47%, dari sebelumnya 24,72%. Ada pun produksi batu bara tahun ini diperkirakan sekitar 332 juta ton.
Sementara mengenai harga batu bara, diharapkan pada semester dua tahun depan harga batu bara akan kembali mencapai titik temu. “Kalau sekarang ibaratnya saya belum melihat cahaya terang,” jelasnya. Menurutnya, haarga batu bara di atas US$ 100 per ton baru bisa dilihat dalam waktu kurun 18 bulan dari sekarang.
“Kalau semester 2 tahun depan sekitar US$ 90-US$ 95 per ton. Baru pulih kembali setelah 18 bulan.” Adapun harga saat ini masih stabil antara US$80 per ton – US$85 per ton ( bisnis.com )

Rendahnya harga batubara membuat karyawan perusahaan tambang batubara di Kalimantan Timur (Kaltim) terancam di PHK.

Sebab sejumlah perusahaan mengakali turunnya harga ini dengan menurunkan jumlah produksi. Bahkan sejumlah karyawan saat ini sudah mendapat pengurangan hari kerja.
“Kalau harga turun, produksi kita dikurangi. Produksi dikurangi, berarti kapasitas produksi juga dikurangi. Artinya kalau dikurangi tentu kontraktor-kontraktor dikurangi juga. Akibatnya kontraktor kalau tidak dikontrak lagi atau pekerjaannya dikurangi berarti alatnya tidak jalan dan berimbas karyawannya tidak kerja,” kata Ketua Asosiasi Pengusaha Batubara Samarinda Eko Priatno, Senin (5/11/2012).
Ia menjelaskan, untuk saat ini yang melakukan pengurangan ini adalah perusahaan kecil. Sedangkan perusahaan besar hanya melakukan penyesuaian.
“Yang melakukan ini hanya tambang-tambang kecil, kalau tambang besar kan mereka punya kontrak jangka panjang. Kalau yang kecil-kecil tergantung pembeli. Kalau pembelinya tidak datang ya tidak laku batubaranya,” kata Eko.
Ia menjelaskan, jika harga batubara turun biasanya perusahaan tambang memilih mengurangi jumlah produksinya. Hal ini untuk mengurangi selisih biaya produksi dan penjualan yang kian menipis. Perusahaan-perusahaan ini sudah ada yang melakuka pengurangan produksi. Meski ada perusahaan yang belum mengurangi, mereka biasanya melakukan penyesuaian agar tidak sampai merugi.
Jika kondisi ini terus berlarut-larut, Eko mengatakan tentu akan banyak perusahaan yang tutup. Imbasnya tentu kepada karyawan yang kehilangan pekerjaan.  Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran akan dilakukan.
Namun Eko tetap optimis jika pada Bulan Maret atau April 2013 mendatang harga batubara akan naik. Namun itu hanya sebatas perkiraan jika tidak dilakukan upaya serius meningkatkan harga batubara. Naiknya harga batubara diakuinya disebabkan banyaknya produksi batubara di dunia.
“Di Afrika Selatan dan di Amerika juga sudah produksi. Untuk itu antisipasi kita adalah mengurangi produksi,” kata Eko. ( Sindonews.com )

Samarinda – Turunnya harga batubara disertai krisis di Uni Eropa yang menjadi tujuan ekspor, membuat pekerja tambang emas hitam itu terancam kehilangan pekerjaan.

“Krisis Eropa dan penurunan harga batubara yang belum menentu kapan teratasi, bisa berbulan-bulan ke depan, bukan tidak mungkin terjadi PHK,” kata Ketua Asosiasi Pengusaha Batubara Samarinda, Eko Priatno, kepada detikFinance, Senin (5/11/2012).
Menurut Eko, pekerja tambang batubara terdiri dari perusahaan pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang dahulu bernama izin KP (Kuasa Pertambangan) serta kontraktor pertambangan.
Penurunan harga batubara dan lesunya pasar ekspor negara-negara Eropa, sambung Eko, saat ini berimbas pada penurunan produksi sehingga menyebabkan beberapa perusahaan tambang mulai goyah.
“Pasar lesu, perusahaan harus menurunkan produksi karena produksi tergantung pemesanan. Juga termasuk kontraktor pertambangan, mengurangi jam kerja peralatan mereka,” ujar Eko.
“Sekarang ada penyesuaian jam kerja, pengurangan jam kerja pekerja. Itu tadi, kalau kondisi ini terus berkelanjutan, bisa jadi nanti akan merumahkan karyawan,” tambahnya.
Eko juga menjelaskan, saat ini juga beberapa perusahaan tengah berkonsultasi dengan Dinas Tenaga Kerja Kota Samarinda, terkait kesulitan yang tengah dialami perusahaan tambang batubara, khususnya di Samarinda saat ini.
“Ada yang sudah berkonsultasi 1-2 perusahaan ke Disnaker, terkait rencana itu (merumahkan karyawan pekerja tambang),” terang Eko.
Sekadar diketahui, saat ini sedikitnya tercatat sekitar 50 perusahaan pemegang IUP di kota Samarinda. Puluhan perusahaan tambang batu bara itu tersebar hampir di seluruh kecamatan, antara lain seperti di Kecamatan Palaran, Kecamatan Samarinda Utara, Kecamatan Sungai Pinang serta Kecamatan Samarinda Seberang. ( Finance.detik.com )

Batubara

SAMARINDA–Asosiasi Pertambangan Batu Bara Samarinda (APBS) menyatakan krisis harga batu bara yang saat ini melanda dunia mengancam terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran oleh sejumlah perusahaan tambang di Samarinda, Kalimantan Timur.

Ketua APBS Eko Prayitno, Senin petang, mengatakan, merosotnya harga batu bara sejak delapan bulan terakhir membuat sejumlah perusahaan tambang mengurangi produksinya.
“Kondisi ini membuat sejumlah perusahaan tambang batu bara melakukan efisiensi baik produksi maupun kerja. Bahkan, beberapa perusahaan sudah tidak berproduksi sebab harga batu bara saat ini tidak bisa menutupi biaya produksi. Sejauh ini, belum ada PHK di sektor tambang terkait krisis harga namun jika kondisi seperti ini terus berlangsung tidak menutup kemungkinan akan terjadi PHK besar-besaran, seperti yang pernah terjadi pada sektor perkayuan” ungkap Eko Prayitno.
APBS yang menaungi puluhan perusahaan tambang batu bara pemegang IUP (Izin Usaha Pertambangan) lanjut Eko Prayitno tidak mampu berbuat banyak sebab krisis harga batu bara tersebut terjadi secara global.
“Dari lebih 70 pemegang IUP (Izin Usaha Pertambangan) di Samarida sekitar 30 perusahaan yang aktif bergabung di APBS dengan 70 persen diantaranya mengalami penurunan produksi dengan jumlah pekerja mencapai ribuan baik pekerja teknis pertambangan maupun kotraktor dan sub kontraktor,” katanya.
“Merosatnya harga batu bara ini berdampak pada kontraktor atau rekanan perusahaan tambang yang juga memiliki pekerja cukup banyak,” ungkap Eko Prayitno.
Namun, APBS lanjut dia berharap, krisis harga batu bara itu segera pulih sehingga geliat ekonomi di Samarinda kembali berjalan.
“Kemungkinan, krisis harga batu bara akan berakhir pada April 2013, namun kami memprediksi produksi tidak serta-merta akan tumbuh sehingga pemulihan ini kami perkirakan akan berlangsung cukup lama,” katanya.
Tidak bisa dipungkiri lanjut Eko Prayotno, sektor batu bara juga ikut berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi di Kota Samarinda.
“Dari sisi tenaga kerja, ribuan pekerja perkayuan yang di-PHK, 80 persen diantaranya saat ini bekerja di sejumlah perusahaan tambang batu bara. Begitupula dari geliat perekonomian Kota Samarinda tidak terlepas dari sumbangsih sektor tambang batu bara,” ungkap Eko Prayitno.

Pengurangan secara signifikan produksi tersebut lanjut Eko Prayitno terjadi pada kualitas batu bara menengah ke bawah sementara batu bara berkualitas baik pengurangannya tidak signifikan.
“Produksi batu bara dengan kualitas rendah mengalami penurunan cukup signifikan bahkan beberapa perusahaan sudah tidak melakukan produksi lagi sementara untuk kualitas tinggi tidak terlalu besar,” ungkap Eko Prayitno. ( bisnis-kti.com )
Tujuan ekspor batu bara hasil tambang di Samarinda, kata dia, terbanyak ke Cina dan India.
“Sebagian ke Eropa dan sisanya untuk kebutuhan dalam negeri,” kata Eko Prayitno. (ant/mnk)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY